Paleontologis: Dinosaurus di Jurassic World Nggak Banget!

posted in: Depan | 0

Akademia Jogja udah pada nonton Jurassic World belum, nih? Film yang sedang ada di puncak Box Office ini lagi anget banget jadi omongan terutama dari sisi sains dinosaurus yang ditampilin. Meski sudah ditonton di 3.220 lokasi yang tersebar di seluruh dunia, paleontologis banyak yang nggak kasih restu nih buat film ini. Steve Brusatte, paleontologis dari Universitas Edinburgh, bilang kalo Jurassic World itu film monster, jadi jangan berharap banyak sama ketepatannya di ranah sains.

Film soal dinosaurus nyatanya berpengaruh besar loh sama minat masyarakat di bidang ilmu tentang fosil. Sesaat setelah “Jurassic Park” rilis tahun 1993, banyak bantuan dan lapangan pekerjaan di bidang paleontologi, bahkan film yang disutradarai Steven Spielberg kala itu sering banget dijadiin penggambaran sederhana soal perilaku dinosaurus di zamannya. Sementara itu, “Jurassic World” malah dibilang nggak up to date sama hasil riset terakhir. Soalnya berdasarkan hasil penelitian terbaru badan Velociraptor sepenuhnya ditumbuhi bulu seperti layaknya burung, bahkan dilengkapi dengan sayap meski ngga bisa dipakai terbang.

Sejak peluncuran trailernya saja, Jurassic World sudah banyak menuai kritik baik dari ilmuwan maupun pemerhati dinosaurus yang ngerasa film ini melenceng jauh banget. Brian Switek, pengarang buku My Beloved Brontosaurus berkicau dari akun Twitter pribadinya kalo kasih jempol ke T-rex adalah ide yang buruk. Darren Naish, zoologis yang ambil spesialisasi soal dinosaurus juga sebel karena di Jurassic World sama sekali nggak nampilin dinosaurus yang berbulu. Ilmuwan lainnya berpendapat serupa, kalo film ini sama sekali nggak mewakili aspek historis dari zaman dinosaurus, dan mereka ngga mau bilang Jurassic World adalah film soal dinosaurus, film ini semata-mata cuma karya gila Hollywood demi meraup banyak untung.

Kalo orang awam sih mungkin nggak paham apa yang para ilmuwan tadi ributkan, dan bilang, “yaelah selo, namanya juga film.” Tapi buat paleontologis, produk populer seperti film adalah sarana edukasi yang paling dasar soal dunia mereka. Takutnya, ide penonton soal binatang purba akan salah terbentuk nantinya. Velociraptor dan Mosasaur nggak seharusnya berukuran sebesar itu, dan Ankylosaurus nggak bakal bersikap segitu agresifnya karena jenis ini adalah herbivora. Nah, kaya kata Dr. Henry Wu di satu scene, “If you wanted reality, then you came to the wrong place.” jangan kecewa sama filmnya ya buat kamu para dino-enthusiast!

teks: Adya Nisita | editor: Falafu | wired.co.uk